← Kembali ke Perpustakaan
B6 dari 21 unit — Klaster Digital · Ekosistem Buku SpKKLP

Geriatri dan Penyakit Degeneratif di Layanan Primer

Perpustakaan Digital ABBA · Dr.dr. H. Budi Siswanto, Sp.OG, Subsp.Obginsos., SH., S.Kom. · 2026

BAB I — TRANSISI DEMOGRAFI DAN TANTANGAN LAYANAN PRIMER

Indonesia menghadapi transisi demografi menuju populasi menua, menjadikan geriatri sebagai bidang yang semakin penting dalam praktik layanan primer sehari-hari. Pasien lanjut usia umumnya datang dengan multimorbiditas — beberapa penyakit kronik sekaligus — sehingga menuntut pendekatan terintegrasi, bukan penanganan penyakit satu per satu secara terpisah.

⚠ TINJAU TENAGA KESEHATAN — seluruh instrumen asesmen dan ambang klasifikasi pada bab ini wajib ditinjau ulang sesuai pedoman geriatri nasional terbaru sebelum dipakai sebagai acuan definitif. Struktur 7 Area Kompetensi dan kerangka penjenjangan kompetensi pada Perkonsil Nomor 65 Tahun 2019 telah diverifikasi terhadap salinan resmi yang dipublikasikan di situs Konsil Kedokteran Indonesia (kki.go.id); namun rincian tabel Lampiran II dan Lampiran IV untuk tiap masalah kesehatan geriatri belum ditelusuri satu per satu pada edisi ini dan wajib diverifikasi ulang oleh pembaca terhadap dokumen resmi sebelum dipakai sebagai acuan definitif.

BAB II — ASESMEN GERIATRI KOMPREHENSIF

Asesmen geriatri komprehensif adalah pendekatan multidimensi yang menilai status medis, fungsional, kognitif, psikologis, dan sosial pasien lanjut usia secara terintegrasi, melampaui sekadar diagnosis penyakit.

DimensiFokus Penilaian
Status medisMultimorbiditas, polifarmasi, status gizi
Status fungsionalKemampuan aktivitas hidup sehari-hari dan aktivitas instrumental
Status kognitifSkrining gangguan kognitif dan risiko delirium
Status psikologisSkrining depresi dan kecemasan pada lanjut usia
Status sosialDukungan keluarga, risiko isolasi sosial, kondisi tempat tinggal

BAB III — POLIFARMASI DAN KESELAMATAN PENGOBATAN

Polifarmasi — penggunaan banyak obat sekaligus — meningkatkan risiko interaksi obat dan efek samping pada lanjut usia. Peran dokter layanan primer mencakup peninjauan berkala seluruh obat yang dikonsumsi pasien (termasuk obat bebas dan suplemen), penyederhanaan regimen bila memungkinkan, dan edukasi keluarga sebagai pengawas kepatuhan.

BAB IV — SINDROM GERIATRI

Sindrom geriatri — jatuh berulang, inkontinensia, gangguan mobilitas, kerapuhan (frailty), dan gangguan kognitif — memerlukan pendekatan tersendiri yang berbeda dari kerangka diagnosis penyakit tunggal konvensional, karena umumnya bersifat multifaktorial dan saling memengaruhi.

BAB V — PERAWATAN PALIATIF DI LAYANAN PRIMER

Untuk pasien lanjut usia dengan penyakit kronik lanjut atau tahap akhir kehidupan, layanan primer berperan dalam prinsip dasar perawatan paliatif: manajemen gejala, komunikasi terbuka tentang prognosis dan preferensi perawatan bersama keluarga, serta koordinasi dengan layanan rujukan paliatif spesialistik bila diperlukan.

BAB VI — KELUARGA SEBAGAI MITRA PERAWATAN LANJUT USIA

Perawatan lanjut usia di Indonesia sebagian besar bertumpu pada keluarga sebagai pengasuh utama. Dokter layanan primer berperan mendukung keluarga pengasuh, termasuk mengenali tanda kelelahan pengasuh (caregiver burden) dan memberikan edukasi praktis perawatan di rumah.

BAB VII — PENUTUP

Pendekatan geriatri melengkapi pandangan siklus hidup yang dibangun sejak Buku Tematik 4 (kesehatan ibu, anak, dan remaja), menegaskan bahwa dokter spesialis kedokteran keluarga layanan primer melayani pasien di seluruh rentang usia dengan prinsip berkesinambungan yang sama.

Glosarium

Polifarmasi
Penggunaan banyak obat sekaligus, umumnya didefinisikan lima jenis obat atau lebih.
Frailty (Kerapuhan)
Sindrom penurunan cadangan fisiologis yang meningkatkan kerentanan lanjut usia terhadap stresor.
Caregiver Burden
Beban fisik, emosional, dan finansial yang dialami pengasuh anggota keluarga lanjut usia.

Daftar Pustaka

  1. Konsil Kedokteran Indonesia. Peraturan Konsil Kedokteran Indonesia Nomor 65 Tahun 2019.
  2. Catatan: instrumen asesmen geriatri dalam buku ini bersifat umum; pembaca disarankan merujuk pedoman geriatri nasional PERGEMI (Perhimpunan Gerontologi Medik Indonesia) dan Kementerian Kesehatan RI edisi berlaku.